Tayangan Televisi Membentuk Kepribadian Bangsa


(Oleh: Sumadi)

Perkembangan Teknologi informasi akhir –akhir ini terjadi sangat cepat. Berbagai informasi menyebar melalui berbagai media seperti surat kabar, majalah, radio, televisi dan internet. Informasi yang berada di suatu negara bisa diketahui masyarakat di negara yang lain dalam beberapa menit saja. Sebagai contohnya yaitu diadakannya siaran langsung pertandingan sepak bola Eropa melalui televisi. Masyarakat Indonesia bisa menyaksikan langsung jalannya pertandingan sampai dengan hasil akhir perlombaan. Contoh lain misalnya berita-berita yang dulu hanya dituliskan melalui koran maupun majalah sekarang sudah dikemas dalam bentuk yang lebih praktis yaitu media online internet. Jangkauan internet ini bahkan lebih luas dari sekedar penerbitan koran yang biasanya hanya didistribusikan lokal atau daerah saja. Jangkauan internet menembus berbagai negara di benua manapun. Bahkan sekarang diperpraktis lagi dengan adanya mobile internet yaitu melalui Handphone. Dahulu Handphone yang hanya digunakan untuk berbicara sekarang bisa digunakan untuk mengakses internet.

Perkembangan teknologi yang sedemikian pesat menjadi sarana penyampaian berbagai informasi. Dengan berbagai kemudahan tersebut, penyampaian berbagai informasi seharusnya membawa masyarakat ke dalam kehidupan yang lebih baik. Dengan mengetahui informasi diharapkan masyarakat dapat menyerap berbagai ilmu yang bermanfaat untuk mengembangkan potensi diri dan lingkungan. Berbagai informasi bermanfaat merupakan sarana untuk berkembang dan menjawab tantangan alam yang semakin lama semakin tidak bersahabat. Informasi bermanfaat mengawal individu dalam mencapai kesejahteraan serta kualitas hidup yang lebih baik.

Pada kenyataannnya tidak semua informasi yang dipersembahkan media memberikan kontribusi positif bagi kehidupan manusia.  Tidak sedikit informasi yang kurang bermanfaat disiarkan melalui berbagai media. Informasi yang kurang bermanfaat ini disiarkan tanpa pandang konsumen. Hal ini sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat penerima informasi bahkan merusak tatanan masyarakat yang sudah teratur. Perkembangan informasi yang diharapkan membawa masyarakat kepada perubahan yang lebih baik ternyata justru bisa menjadikan manusia kembali pada keadaan yang menyedihkan.

Dari berbagai media informasi seperti surat kabar, majalah, radio dan internet, televisi merupakan media yang paling akrab dengan masyarakat. Informasi televisi hampir diminati oleh berbagai kalangan.  Lain halnya dengan surat kabar atau majalah yang informasinya dapat dinikmati sekali saja dalam sekali beli. Internet hanya diminati oleh mereka yang mempunyai kemampuan menggunakan komputer dan akses internet membutuhkan biaya yang cukup mahal. Sedangkan radio hanya dinikmati audionya saja sehingga kurang menarik perhatian.

Televisi merupakan media yang paling efektif untuk menyampaikan berbagai informasi kepada masyarakat. Sebagian besar masyarakat telah mempunyai televisi di rumahnya. Setiap malam, ia muncul di setiap rumah dan mampu menghimpun para penghuninya untuk duduk santai di depannya sambil beristirahat. Selain itu televisi dapat dikatakan  media yang paling menarik dibanding dengan media-media lain. Televisi menampilkan tayangan audiovisual sehingga informasi mudah diserap dan dipahami oleh pemirsa. Kemampuan televisi mengatasi faktor jarak, ruang dan waktu menjadikannya akrab dengan masyarakat.  Masyarakat rata-rata menghabiskan waktu senggangnya untuk menonton televisi.

Televisi membentuk pola pikir pemirsa. Lihatlah bagaimana penonton menghabiskan waktunya untuk menyaksikan acara televisi terutama yang disukainya. Setiap ada waktu senggang dihabiskan untuk menonton televisi. Waktu untuk berkumpul bersama keluarga ditemani dengan acara televisi. Makan malam dan pengantar tidur juga diiringi dengan acara televisi. Menunggu boarding pesawat juga disuguhi dengan acara televisi. Menunggu antrian di bank maupun di kantor-kantor pelayanan pasti sangat membosankan tanpa adanya tontonan. Sehingga demi pelayanan yang bagus, pihak bank akan menyiapkan perangkat televisi yang bisa dilihat oleh nasabah saat menunggu pelayanan. Dengan adanya berbagai kemudahan dalam hal menyaksikan televisi maka acara televisi itu menjadi mudah dikenal oleh publik. Sehingga berbagai perkembangan informasi baik itu iklan, berita, film maupun sinetron cepat ditangkap oleh publik. Hal ini menjadikan para pemilik stasiun televisi untuk berlomba-lomba dalam membuat acara televisi yang menarik sehingga apabila tayangannya ditonton dan digemari oleh banyak orang, maka akan banyak permintaan tayangan iklan. Dengan banyaknya permintaan untuk menayangkan iklan maka keuntungan pemilik stasiun televisi akan semakin besar. Demi mendapatkan keuntungan yang banyak tersebut kadang-kadang pemilik televisi tidak memperhatikan sisi negatif dari suatu acara. Muhammad Syihabuddin, dosen Ilmu Pemerintahan Fisip Unila menyebutkan dalam artikelnya tentang Tukulisme, ”Wajar kiranya kini, banyak media yang dituduh “menghamba pada rating”, karena kebanyakan program yang disiarkan oleh TV swasta hanya mengejar rating semata. Tak peduli jika program itu berperan besar dalam pembodohan massal, memopulerkan mistisisme, atau meritualkan “budaya” olok-olokan kepada masyarakat, maka program semacam itu akan diperpanjang menjadi 250 episode. ”Kapitalisasi terhadap segala macam program yang tak cerdas hampir-hampir menggelinding tanpa kendali. Ia akan mengeksploitasi dan menjual apapun asalkan pengiklan berjubel datang dan antri untuk memasang iklannya, mengiringi penayangan program itu. Mulai dari acara “mengobrak-abrik” rumah tangga selebritis, mendramatisir secara mistis jasad-jasad manusia, dan terakhir “hancurnya” si Tukul. Saya rasa, sepak terjang kapitalisme sudah terlampau jauh, bahkan terkesan keterlaluan.”

Berbagai macam acara televisi itu dikonsumsi oleh masyarakat baik yang positif maupun yang dapat berpengaruh negatif sehingga pola pikir akan terbentuk berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari televisi. Pengetahuan akan informasi televisi secara tidak langsung mempengaruhi cara berpikir pemirsa.

Salah satu acara televisi yang dapat dikatakan bermanfaat yaitu berita. Berita dapat menambah wawasan masyarakat. Berbagai informasi didapat dengan menyaksikan berita. Televisi mempunyai daya tarik yang cukup dalam hal menyajikan berita dibanding media lain seperti media cetak/koran dan radio. Menyaksikan berita di televisi dapat sekaligus melihat kejadian yang sebenarnya lewat tayangan visualnya sedangkan untuk mendapatkan keterangan tentang berita cukup dilakukan dengan mendengarkan tidak perlu membaca lagi.

Dari semua berita yang disajikan televisi tidaklah semua pengetahuan dapat memberikan manfaat maupun nilai positif. Contoh berita yang selain memberikan manfaat sekaligus memberikan nilai negatif yaitu berita kriminal. Yang diinformasikan dalam berita kriminal biasanya tentang pelaku, korban, motif, modus dan kerugian. Menurut saya letak sisi negatifnya yaitu dari segi modus. Misalkan tentang pencurian. Dengan adanya pemberitaan tentang modus pencurian maka bisa jadi pelaku lain akan lebih kreatif sehingga menciptakan cara-cara baru yang dianggap aman. Selain itu ada juga berita tentang kekerasan, pembunuhan dan pemerkosaan. Semakin banyaknya tayangan tentang kekerasan, pembunuhan maupun pemerkosaan dapat menjadikan peristiwa tersebut sebagai suatu peristiwa yang lumrah dan tidak tabu lagi. Apabila sudah tidak dianggap tabu, maka peluang pelaku lain untuk mengerjakan menjadi semakin besar karena dianggap sebagai kejadian biasa. Sehingga dengan adanya pemberitaan, orang tidak makin menghindar untuk tidak melakukan tetapi malah meniru karena hal tersebut biasa terjadi. Pemirsa yang paling merasakan dampaknya yaitu anak-anak. Berikut adalah pengakuan wakil masyarat yang dimuat dalam Rakyat Merdeka: ”Tayangan televisi nasional semakin memprihatinkan karena menyuguhkan tontonan yang kurang mendidik masyarakat. Berita-berita kriminal yang ditayangkan secara fulgar seperti kekerasan, darah dan pembunuhan secara psikologis bisa mempengaruhi kepribadian pemirsa terutama anak-anak” (Pribadi Santoso, 2008, Rakyat Merdeka)

Acara televisi lain yang cukup menyita perhatian pemirsa yaitu film dan sinetron. Khususnya sinetron yang hampir setiap hari striping tidak pernah berhenti menghiasi layar kaca. Tiada hari tanpa tayangan sinetron. Sinetron biasanya ditampilkan pada jam-jam malam sebelum tidur di saat anak-anak sekolah seharusnya membuka buku untuk belajar atau mengerjakan PR. Film-film biasanya menampilkan budaya hidup bebas, kekerasan, menebarkan ketakutan sampai unrealistic programs yang sangat berpotensi merusak karakter anak-anak, termasuk sebagian film kartun yang menampilkan kekerasan dan ketakutan yang dikemas dalam bentuk komedi. Sinetron yang bertemakan dunia makhluk halus penolong manusia merupakan salah satu contoh unrealistic programs. Program semacam ini memberikan pengertian bahwa ketika manusia tak lagi menemukan jalan keluar dalam permasalahannya, masih ada makhluk halus yang peduli dengan nasibnya yang terpuruk. Dengan demikian dapat menuntun anak-anak kepada pemahaman yang keliru tentang kenyataan hidup. Jika persepsi keliru tersebut terus terpatri dan mengendap dalam pikiran anak-anak, hidup mereka akan semakin jauh dari rasionalitas dan realitas hidup yang sebenarnya. (Khairil Hanan dan Wan Ulfa Nur Zuhra, )

Pelajaran apakah yang dapat dipetik dari acara sinetron? Pertanyaan ini  perlu mendapatkan perhatian khusus. Kalau boleh saya berpendapat, tayangan sinetron lebih banyak mengandung nilai negatif. Berikut ini pendapat seorang akademikus Universitas Negeri Padang : ” Harus diakui jika tontonan sinetron mayoritas dipenuhi menu rumah mewah, mobil keren dan juga gemerlap kehidupan kota. Sebagai suatu bangsa, kita tentu sangat tidak menginginkan generasi penerus mewarisi budaya hedonis” (Rofiqoh Hadiyati, 2008, Kabar Indonesia). Cerita utama yang sering digunakan sebagai ide dasar sinetron tidaklah jauh dari tema percintaan, perebutan pasangan dan perebutan harta warisan dengan dibumbui berbagai macam konflik. Apakah pola pikir seperti itu yang hendak diajarkan kepada para penonton. Memang ada maksud baik yang mungkin akan disampaikan dengan cerita sinetron tersebut. Hal ini dibuktikan dengan adanya ending sinetron yang biasanya dimenangkan oleh pihak yang dianggap benar (tokoh protagonis). Sehingga pemirsa bisa menilai bahwa kebenaran pasti akan menang. Tetapi apakah demikian yang bisa diambil oleh pemirsa? Saya rasa tidak, bahkan penonton lebih suka mengikuti proses konflik yang diperankan oleh tokoh antagonis. Karena bumbu yang membuat cerita menjadi hidup adalah adanya konflik antar tokoh tersebut. Yang lebih miris lagi konflik yang dibuat bisa sampai di luar batas budaya bangsa ini. Cara berpikir seorang tokoh, gaya pakaian sampai dandanan dipersembahkan dengan mengumbar budaya hedonisme meniru budaya luar bahkan mengunggulkan dan membuat kesan jika buatan luar negeri itu lebih maju. Dengan adanya penyajian seperti ini secara tidak langsung mendoktrin kita untuk menerima secara gamblang pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Sehingga masyarakat  bisa meninggalkan bahkan melupakan cara berpakaian, gaya bicara sampai pola hidup sesuai budaya bangsa sendiri. Bukti dari semua itu bisa kita lihat dari pola pikir masyarakat sekarang khususnya para pemain sinetron. Berapa kali sebulan mereka pergi ke luar negeri untuk belanja pakaian, untuk berlibur sampai untuk bulan madu. Jika ditanya mereka pasti akan dengan bangga menjawab bahwa mereka telah pergi ke berbagai negara.

Sebagai contoh sinetron yang ditampilkan salah satu stasiun televisi swasta misalnya muslimah, Inayah, Baghdad dan sinetron semacamnya. Beberapa data para penonton yang berkomentar tentang rusaknya sinetron muslimah Indosiar: ”Sinetron muslimah yang awalnya tayang sebagai sinetron ramadhan yang diharapkan sarat akan pesan moral sekarang ini malah menjadi semakin memojokkan nilai-nilai kemanusiaan dan mendiskreditkan Islam secara berlebihan. Dimana nilai-nilai islamnya, jika  yang ditampilkan hanyalah bayi bermata tiga dan perlakuan kasar terhadapnya, umpatan dan makian yang kadang terlontar dalam doa para tokohnya, pelecehan terhadap TKW di Arab Saudi yang digambarkan sebagai penggoda walaupun bukan peran utama. Kesemuanya yang saya sebutkan di atas adalah alasan mengapa saya di sini sebagai pemirsa televisi, mengharap KPI menghentikan sinetron tersebut karena pesan-pesannya yang tidak lagi bermuatan kemanusiaan dan keislaman. Terima kasih.” (Susi, Jawa Barat)

”Sebagian besar penonton sinetron ini adalah para ibu-ibu dengan pendidikan yang rendah. Kemampuan mereka untuk memilih content yang mendidik sangat rendah. Dikhawatirkan mereka akan menerima dan menelan begitu saja isi tayangan tersebut dengan tanpa adanya filter yang baik.” (Indonesianvoices)

Acara televisi yang tidak kalah menarik yaitu  sajian musik. Kebanyakan penggemar acara ini adalah kawula muda. Sungguh sangat disayangkan jika generasi muda ini menghabiskan waktu berjam-jam untuk menghafalkan musik, sesuatu yang hanya hiburan dan tidak memberikan nilai manfaat bagi kehidupan apalagi kemajuan di bidang ilmu pengetahuan. Coba bayangkan jika waktu itu digunakan untuk bekerja membantu pekerjaan orang tua atau digunakan untuk membahas ilmu pengetahuan. Lihatlah tayangan televisi setiap Sabtu Minggu ada acara tontonan musik dimana banyak berkumpul anak-anak yang rata-rata usia sekolah. Dengan asyik mereka berlonjak-lonjak mengikuti irama dan nyanyian sang penghibur. Dalam tayangan televisi ada juga acara MTV. Dalam acara televisi tersebut biasanya oleh si host pemirsa biasa dipanggil dengan sebutan ”anak nongkrong”. Ini merupakan sebutan rendahan yang tidak disadari oleh kebanyakan orang. Tahukah anda apa yang dimaksud dengan ”nongkrong” itu? Tentunya adalah suatu kegiatan menghabiskan waktu tanpa menghasilkan faedah apapun. Sangat berbahaya jika setiap hari kita harus nongkrong di depan televisi hanya untuk mengikuti acara musik tersebut. Generasi muda bangsa ini hanya akan menjadi generasi hura-hura. Lalu bagaimana dengan masa depan bangsa ini?

Acara hiburan yang tidak kalah menarik yaitu lawak. Cukup banyak stasiun televisi yang menyajikan acara ini. Hampir setiap hari ada acara semacam ini. Acara ini cukup menghibur pemirsa. Apalagi setelah seharian kelelahan bekerja maka enaknya menonton acara yang bisa membuat tertawa melupakan kesibukan sejenak. Namun tidak sedikit yang akhirnya menjadi gemar . Kalau hanya untuk sedikit menghibur mungkin tidak terlalu masalah. Tapi kalau terus terusan maka bisa mematikan hati dan membentuk pola pikir yang urakan. Apa yang dilihat dalam acara tersebut mempengaruhi jiwa sehingga bisa menjadi pribadi yang suka menganggap segala sesuatu sebagai bahan gurauan. Orang yang banyak melihat acara lawak biasanya suka mencari perhatian orang lain dengan berkata atau melakukan sesuatu yang lucu supaya orang lain bisa tertawa. Kecenderungannya dia akan mengikuti apa yang dia lihat dalam acara lawak tersebut. Membiasakan diri dengan banyak bercanda tidak lah baik karena bisa menjadikan kebablasan sampai hal-hal lain yang tidak pantas untuk dibuat bercanda. Biasanya orang yang suka banyak bercanda sulit menerima nasehat dari luar.

Olah raga merupakan acara televisi yang cukup berbobot dan tidak terkesan cengeng sebagaimana sinetron atau hanya sekedar hiburan selayaknya musik atau lawak. Adanya acara olahraga memberikan pengetahuan tentang prestasi pemain olah raga yang patut dibanggakan dan bisa ditiru. Sebagian mereka bisa menjadikan pengetahuan yang disampaikan televisi sebagai tolak ukur keberhasilan dan prestasi.

Namun demikian, acara olahraga tidak sepenuhnya membawa hal positif. Tidak sedikit dari mereka yang hanya sekedar gemar atau mengidolakan bahkan menjadikan pertandingan sepak bola sebagai bahan taruhan dan judi. Di sisi lain, atlet dan pemain olahraga luar negeri telah mengambil posisi istimewa di hati para penggemar olah raga dalam negeri. Siapa yang tidak mengenal para pemain sepak bola dari Eropa atau pemain dalam balap motor maupun mobil? Tidak sedikit orang yang rela bangun malam demi menyaksikan siaran langsung  pertandingan sepak bola luar yang ditayangkan dini hari. Pengorbanan ini kadang-kadang hanya karena hobi yang belum tentu dia bisa meniru prestasi para pemain itu. Mendukung para pemain asing itu kadang–kadang berlebihan sampai-sampai melupakan pemain dalam negeri karena permainan orang luar itu lebih lihai.

Acara televisi yang akhir-akhir ini cukup banyak ditayangkan yaitu reality show. Acara yang bermaksud mengambil cerita kehidupan sesungguhnya ini tidak sedikit yang pada dasarnya rekayasa. Sebagai contoh reality show yang ratingnya cukup tinggi yaitu acara termehek-mehek. Dengan mengambil jam tayang pada pukul 18.15-19.00 bisa menjadikan penggemarnya lupa mengerjakan sholat maghrib. Kalaupun mengerjakan sholat bisa dimungkinkan terburu-buru karena tidak mau ketinggalan ceritanya. Sebagian orang mungkin tidak percaya karena jika menyaksikan bisa merasa iba dan haru bahkan sampai ada tangisan. Namanya saja akting, pastinya para pemain harus meyakinkan. Cara mudah untuk mengenali apakah reality show itu nyata atau rekayasa yaitu kita perhatikan kualitas suara yang jernih ketika terjadi percakapan antara host, client dan target karena dipasang chip pada baju masing-masing. Selain itu cukup susah mencari orang yang mau dibuka dan disiarkan aibnya. Untuk mendapatkan kisah nyata yang akan ditayangkan membutuhkan waktu yang cukup lama dan belum tentu ada kepastian kasus itu selesai atau tidak. Maka skenario selayaknya sinetron dan rekayasa akan lebih mudah dan lebih pasti untuk dijual ke stasiun televisi. Pada akhirnya tujuannnya adalah supaya rating acara menjadi naik sehingga iklan akan berebutan untuk mengambil porsi tayang.

Acara televisi lain yang ikut menghiasi layar kaca dan cukup marak yaitu Infotainment/berita tentang selebriti. Selebriti adalah publik figur yang sangat diperhatikan olah pemirsa. Hampir dapat dipastikan para pemirsa suka meniru gaya hidup selebriti karena mereka adalah idola. Hal inilah yang menjadikan acara infotainment sangat digemari. Sebagian selebriti menjadikan acara ini sebagai pendobrak popularitas. Karena semakin sering muncul di televisi pastinya semakin terkenal. Di sisi lain ada juga penayangan gaya hidup pribadi selebriti yang berlebihan sampai ke hal-hal yang bersifat privasi. Dengan tujuan untuk menarik perhatian pemirsa, para pemburu berita selebriti sampai melanggar hal-hal yang seharusnya tidak pantas untuk disiarkan dan tidak layak dikonsumsi publik.

Sebagian besar tayangan televisi cenderung berakibat negatif bagi pemirsa. Khususnya anak-anak yang belum cukup mampu memilih acara yang bermutu pastinya sangat rentan terhadap nilai-nilai yang dipersembahkan pada acara televisi. Menteri Komunikasi dan Informastika (Menkominfo) RI, Tifatul Sembiring mengatakan dalam Kompas bahwa ada 10 dari 75 tayangan televisi di Indonesia merusak pembangunan karakter bangsa. Menkominfo mengakui bahwa perkembangan teknologi komunikasi dan informasi di Indonesia sangat pesat, namun tidak semuanya bersifat baik bahkan bisa merusak.

Dengan berbagai akibat buruk di atas maka tayangan televisi harus dibatasi. Lembaga sensor dan Komisi Penyiaran Indonesia harus berani melakukan pelarangan terhadap program-program tayangan televisi yang tidak bermanfaat. Mencari keuntungan boleh, namun tanpa harus mengorbankan masyarakat. Acara-acara yang sifatnya hanya membohongi dan membodohi masyarakat harus dikaji ulang. Dengan begitu acara yang ditayangkan adalah acara yang bisa mendidik masyarakat dan menjadi sarana edukasi anak-anak. Informasi bermanfaat yang ditampilkan dalam televisi diharapkan dapat mendidik bangsa ini menjadi pribadi-pribadi yang unggul serta untuk melestarikan nilai-nilai budaya bangsa sendiri.

Pembatasan terhadap tayangan televisi yang kurang bermanfaat sulit untuk diharapkan karena keterbatasan kemampuan dan wewenang Lembaga sensor film dan Komisi Penyiaran Indonesia. Peraturan perundangan tentang penyiaran dirasakan kurang efektif. Saat ini banyak pihak yang berlindung di balik demokrasi dan kebebasan HAM untuk memperjuangkan aspirasinya khususnya tentang kreatifitas seni dalam berbagai hiburan yang akan ditayangkan kepada publik. Pelarangan suatu acara dianggap melanggar kebebasan HAM dan kebebasan berekspresi.
Kebebasan berekspresi seharusnya tidak sampai melanggar norma-norma kesopanan dan kesantunan dengan tanpa merugikan pihak lain. Seorang kreator sejati bisa tetep keluar ide gila dengan sejuta batasan. saya jadi teringat dan terharu apa yg disampaikan Dedi Mizwar, bahwa kreativitas itu ada untuk membuat kehidupan lebih baik walau dengan segala keterbatasan.

Dengan segala keterbatasan peraturan dan badan-badan penyiaran dalam melindungi masyarakat dari tayangan tidak bermutu, maka akhirnya kembali kepada kita masing-masing, bagaimana menjaga diri dan keluarga dari program-program tidak bermutu. Salah satu caranya yaitu dengan membiasakan diri menghabiskan waktu untuk mengerjakan hal-hal yang bermanfaat. Perlindungan anak dapat dilakukan dengan mendampingi mereka ketika menyaksikan tayangan televisi atau dengan mengalihkan kepada kegiatan yang sifatnya bermutu dan mendidik.

About sumadi
share ilmu bahan untuk mengerjakan tugas kuliah, bagus kan,.. tapi jangan lupa meningkatkan kualitas diri ya,..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: